|
It
is Brand Activation Era
Komunikasi pemasaran perusahaan yang dulunya telak
didominasi advertising—dengan perbandingan belanja 80% advertising
dan 20% untuk vehicle komunikasi lain—kini telah bergeser.
Sekarang setidaknya 30% untuk kegiatan brand activation. Bahkan
ada yang memperkirakan proporsinya sudah 60:40.
Tidak seperti marketing abad 20 yang cenderung agresif
menggunakan media satu arah lewat iklan yang gencar (heavy advertising),
kini paradigma yang dianut para marketer dan ahli komunikasi pemasaran
bergeser ke arah komunikasi yang lebih interaktif dan dua arah.
Para pemilik merek kini mempertimbangkan membangun
brand dengan strategi komunikasi langsung lewat program-program
brand activation yang dipercaya tidak hanya sanggup menciptakan
awareness, namun bisa membangun product knowledge target audience,
meyakinkan mereka, bahkan mendorong mereka untuk membeli. Brand
acivation yang unik, menarik, dengan kadar audience engagement yangtinggi
bahkan bisa menciptakan publisitas yang impactful—nilai beritanya
bisa setara atau bahkan lebih besar dari cost per contact advertising.
PT Unilever Indonesia Tbk. sudah membuktikannya pada event “Festival
Jajan Bango,” brand activation untuk Kecap Bango. Tidak hanya
mendapat publisitas yang sangat tinggi dari media massa, event ini
pun berhasil menciptakan efek getok tular (word of mouth). Seorang
penggemar kuliner dari Jakarta mengaku menggunakan event ini sebagai
ajang reuni temen-teman kuliahnya.
Meski belum ada data valid yang menggambarkan pergeseran
paradigma itu, para marketer dan orang-orang yang berada di industri
komunikasi percaya bahwa dalam tiga tahun terakhir ini bisnis vendor
kegiatan brand activation seperti event organizer dan event management
tumbuh pesat. Agensi yang khusus menggarap brand activation bermunculan
seperti cendawan di musim penghujan. Tidak hanya agensi independen
yang fokus menangani brand activation, agensi periklanan yang sebelumnya
hanya menyediakan jasa kreatif iklan dan media placement pun kini
memperluas service-nya ke bidang ini.
Masuk
akal memang, karena sekarang adalah eranya integrated marketing
communications (IMC) sehingga klien (baca: para brand owner) biasanya
menginginkan sebuah komunikasi yang terintegrasi di semua vehicle
komunikasi brand mereka.
Turina Farouk, Division Head Marketing Communication
PT Indosat Tbk., misalnya, lebih senang menggunakan agensi yang
menyediakan aneka service IMC ketimbang agensi yang khusus menggarap
brand activation. “Sehingga komunikasi yang kami sampaikan
kepada konsumen kami bisa berjalan secara integrated dan sinergi,”
tuturnya seperti dikutip Majalah MIX Marketing Xtra edisi terbaru
(Oktober 2008). Pernyataan Turina ini mengindikasikan bahwa para
brand owner membutuhkan one stop service agency untuk mengeksekusi
komunikasi pemasaran produknya.
Kembali ke issue makin maraknya penggunaan brand
activation dalam komunikasi pemasaran, Simon Jonatan, CEO Brand-
Maker, berpendapat bahwa brand activation mampu mengangkat brand
keluar dari clutter dan menjadi stand out di antara kompetitornya—jadi
mafaatnya lebih dari sekadar untuk mendapatkan audience share, tapi
juga bisa untuk mencuri perhatian kompetitor.
Namun Simon mengakui bahwa cost per contact brand
activation, terutama yang berbentuk marketing event, sangat tinggi—dibandingkan
advertising. Tapi kalau ditelusuri lebih jauh, kata Simon, kontak
sebuah brand dengan konsumen dalam satu kegiatan brand activation
bisa lebih lama. “Kualitas ‘sentuhan’- nya juga
sangat berbeda,” ujarnya. Kualitas sentuhan inilah, menurut
Simon, yang membuat mahal sebuah brand activation.
“Dalam sebuah event (brand activation), produk
dapat dieksplorasi dari kulit sampai bijinya. Dari ujung ke ujung
bisa
diperkenalkan dan dirasakan langsung oleh konsumen. Ini sangat efektif
untuk memperkenalkan produk,” tuturnya.* (Lis)
< kembali ke index
>
|